A. Latar Belakang
Ikhtiologi berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu “Ichthyes” yang
artinya ikan dan “Logos” artinya ilmu. Dengan demikian Ikhtiology adalah suatu
ilmu pengetahuan yang mempelajari ikan dengan segala aspek kehidupannya. Ikan
didefenisikan sebagai binatang vertebrata yang berdarah dingin (poikiotherm),
hidup dalam lingkungan air, pergerakan dan kesetimbangan badannya terutama
menggunakan sirip dan pada umumnya bernafas dengan insang.
Ichtyologi adalah suatu ilmu yang khusus mempelajari tentang ikan dan
segala aspek kehidupan ikan yang meliputi taksonomi, biologi (morfologi,
anatomi, fisiologi, genetika, reproduksi, dll) dan ekologi (struktur komunitas,
populasi, habitat, predator, dan persaingan serta penyakitnya). Ikan merupakan
binatang vertebrata yang berdarah dingin (poikiloterm), hidup di dalam lingkungan air, pergerakan dan keseimbangan tubuhnya
terutama menggunakan sirip dan umumnya bernafas dengan insang. Setiap jenis
ikan memiliki ciri-ciri taksonomi biologis dan ekologis yang spesifik meskipun
ada beberapa kemiripan ikan yang merupakan objek dalam mata kuliah ichtyologi,
dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan baik secara kasat mata (ekternal
anatomy), bagian dalam tubuh (internal anatomy) dan organ tambahan yang dimiliki
oleh beberapa jenis ikan.
Struktur internal dan eksternal ikan memberi gambaran bentuk tubuh dan
bagian tubuh ikan yang akan menunjukkan pola makan, membedakan jenis kelamin,
dan diagnosis penyakit. Pola makan yang dimiliki oleh suatu jenis ikan akan
memberi acuan dalam hal fasilitas dan tipe budidaya yang akan digunakan dalam
kultur jenis ikan tersebut. Selain itu, bentuk tubuh dan bagian tubuh ikan juga
memberikan acuan dalam pengelompokkan tipe ikan yang berguna dalam klasifikasi.
Ichtyologi merupakan ilmu pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia
perikanan. Ichtyologi mampu memberikan gambaran ikan secara lengkap kepada
dunia perikanan baik secara external maupun internal, tidak hanya sekedar
anatomi ikan saja. Oleh karena itu banyak kepentingan dunia perikanan yang
dipelajari dan dipecahkan dengan bersumber dari ichtyologi.
Dengan demikian ichtyology juga merupakan bagian pengajian tentang
biologi ikan yang dimana berbicara tentang aspek yang sangat luas, yang tidak
hanya mencakupi dari aspek biologis, tetapi juga pada aspek ekologis dan
fisiologis akibat adanya interaksi pada suatu makhluk organisme lain ataupun
lingkungannya
Penerepan ikhtiologi sering dihubungkan dengan biologi kelautan,
limnologi, dan oseanografi. Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang
sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari
pada zat cair lainnya. Sifat-sifat
ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut maupun air tawar
Pengenalan struktur ikan tidak terlepas dari Morfologi ikan yaitu bentuk
luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam
mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi
ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan. Morfologi
adalah berarti mencakup tentang bentuk tubuh dan organ tubuh bagian luar pada
suatu organisme.
Bentuk
tubuh ikan, bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva
sampai dewasa misal dari bentuk bilateral simetris pada saat masih larva
berubah menjadi asimetris pada saat dewasa. Bentuk tubuh ikan merupakan suatu
adaptasi terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang
khusus. Mengkatergorikan ikan kedalam enam kelompok yaitu roverpredator
(predator aktif), lie-in-wait predator (predator tak aktif), surface-oriented
fish (ikan pelagik), bottom fish (ikan demersal), ikan bertubuh besar, dan ikan
semacam belut.
Kepala ikan adalah bagian tubuh terdepan. Pada kepala terletak
beberapa organ penting seperti otak, mulut beserta alat pencernaan (gigi,
lidah), alat pernapasan (insang dan labirin) beserta salurannya, mata dan
kelenjar hipopisa.
Bentuk, ukuran dan letak mulut ikan dapat menggambarkan habitat ikan tersebut. Ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut yang subterminal sedangkan ikan-ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai bentuk mulut yang terminal. Ikan pemakan plankton mempunyai mulut yang kecil dan umumnya tidak dapat ditonjolkan ke luar. Pada rongga mulut bagian dalam biasanya dilengkapi dengan jari-jari tapi insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton. Umumnya mulut ikan pemakan plankton tidak mempunyai gigi. Ukuran mulut ikan berhubungan langsung dengan ukuran makanannya. Ikan-ikan yang memakan invertebrata kecil mempunyai mulut yang dilengkapi dengan moncong atau bibir yang panjang. Ikan dengan mangsa berukuran besar mempunyai lingkaran mulut yang fleksibel.
Adapun jenis
sisik pada
ikan ada bermacam-macam antara lain :
1)
Sisik kosmoid (cosmoid)
Sisik kosmoid (cosmoid)
Sisik kosmoid yang sesungguhnya hanya dijumpai pada ikan-ikan bangsa Crossopterygi yang telah punah. Sisik
ini berlapis-lapis, di mana lapisan terdalam terbangun dari tulang yang
memipih. Di atasnya berada selapis tulang yang berpembuluh darah, dan di
atasnya lagi, selapis bahan serupa email gigi yang disebut kosmin (cosmine). Kemudian di bagian terluar
terdapat lapisan keratin.
2)
Sisik ganoid
Sisik-sisik ganoid ditemukan pada ikan-ikan suku Lepisosteidae dan
Polypteridae. Sisik-sisik ini serupa dengan sisik kosmoid, dengan sebuah
lapisan ganoin terletak di antara lapisan kosmin dan enamel. Sisik-sisik ini
berbentuk belah ketupat, mengkilap dan keras.
3)
Sisik plakoid
Sisik-sisik plakoid dimiliki oleh ikan hiu dan ikan-ikan bertulang rawan
lainnya. Sisik-sisik ini memiliki struktur serupa gigi.
4)
Sisik leptoid
Sisik-sisik leptoid didapati pada ikan-ikan bertulang keras, dan memiliki
dua bentuk. Yakni sisik sikloid (cycloid)
dan ktenoid (ctenoid).
Sisik-sisik sikloid memiliki tepi luar yang halus, dan paling umum
ditemukan pada ikan-ikan yang lebih primitif yang memiliki sirip-sirip yang
lembut. Misalnya adalah ikan-ikan salem dan karper.
Sisik merupakan derivat dari lapisan dermis. Lapisan epidermis adalah lapisan terluar dari ikan. Sementara lapisan paling dalam adalah dermis. Epidermis selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuh ikan. Lendir berfungsi untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ikan dapat berenang lebih cepat, sebagai penutup luka, dan pencegah infeksi.
Sedangkan pada sirip ikan
ada memiliki bermacam-macam sirip yaitu
sebagai berikut:
·
Sirip perut (ventral)
·
Sirip punggung (dorsal)
·
Sirip dada (pektoral)
·
Sirip belakang (anal)
·
Sirip ekor (caudal)
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengamati dan memahami ciri-ciri atau sifat-sifat
bagian luar tubuh ikan yang ditampilkan dalam bentuk nilai kualitatif.
2.
Untuk
mengamati dan memahami ciri-ciri atau sifat-sifat bagian luar tubuh ikan yang
selanjutnya digunakan untuk mencandera, mendiagnosis atau mendeskripsi ciri
morfologi dari ikan yang bersangkutan.
3.
Untuk mengetahui klasifikasi dan penyebutan nama ikan.
4.
Untuk melakukan pengindetifikasi ikan dengan
menggunakan petunjuk identifikasi ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Ikan adalah hewan berdarah
dingin, ciri khasnya adalah mempunyai
tulang belakang, insang dan sirip,
dan terutama ikan sangat bergantung atas air
sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam
air untuk bergerak dengan menggunakan
sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin (Anonim, 2008).
Taksonomi atau sistematika
adalah suatu ilmu mengenai
klasifikasi atau pengelompokan ikan. Istilah taksonomi berasal dari perkataan
Junani taxis yang berarti susunan
atau pengaturan, dan nomos berarti
hukum. Informasi yang digunakan dalam
mempelajari hubungan evolusioner ikan berawal
dari pengetahuan taksonomi terutama deskripsi
ikan. Pengetahuan tersebut menjadi dasar
dalam ikhtiologi dan juga bidang bidang lain
seperti ekologi, fisiologi dan Genetika. Metode
yang digunakan dalam bidang taksonomi terbagi
menjadi enam kategori yaitu :
1)
Pengukuran morfometrik
2)
Cirri meristik
3)
Ciri-ciri anatomi
4)
Pola pewarnaan
5)
Kariotipe dan
6)
elektroforesis (Anonim,
2007).
Ciri morfometrik adalah ciri-ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian tubuh, masalnya panjang standard an ukuran baku serta panjang totalpada tubuh ikan. Pada ukuran-ukuran ikan merupakan salah satu hal yang dapat digunakan sebagai ciri taksonomik ketika mengidentifikasi pada ikan. Yang dimaksud dengan ukuran adalah jarak antara satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lainnya, secara umum dinyatakan dalam ukuran millimeter (mm) atau juga ada yang menggunakan ukuran centimeter (cm). Setiap spesies ikan mempunyai ukran yang berbeda, perbedaan ini disebabkan karena umur, jenis kelamin dan juga lingkungan hidupnya dari perairan yang didiaminya (Djasmani, 2013).
Tentang apa yang dimaksud dengan
ikan hampala ichtyologi telah
banyak mendefinikannya. Secara umum
bahwa yang dimaksud dengan hampala
adalah ikan liar yang hidup di sungai-sungai atau danau di daerah tertentu
seperti Jawa Barat, Kalimantan dan Sumatra. Hampal lebih dikenal di kalangan
hobiis pemancing dialam bebas dan didaerah tertentu dimana ikan ini hidup dan
berkembang secara alami (Anonim, 2009).
Pengukuran morfometrik merupakan beberapa pengukuran standar yang
digunakan pada ikan antara lain panjang standar, panjang moncong atau bibir,
panjang sirip punggung atau tinggi batang ekor. Pada pengukuran ikan yang
sedang mengalami pertumbuhan digunakan rasio dari panjang standar. Pengukuran
morfometrik merupakan pengukuran yang penting dalam mendekripsikan jenis ikan.
Ciri meristik merupakan ciri-ciri dalam taksonomi yang dapat dipercaya, karena
sangat mudah digunakan. Ciri meristik ini meliputi apa saja pada ikan yang
dapat dihitung antara lain jari-jari dan duri pada sirip, jumlah sisik, panjang
linea literalis dan ciri ini menjandi tanda dari spesies. (Anonim,
2003).
Perkembangan
budi daya air tawar sebagai salah satu kegiatan agribisnis mulai disadari dan
digarap dengan baik pada era 1990-an. Salah satu sentra kegiatan agribisnis
ikan konsumsi air tawar terletak didaerah jawa barat. Dimulainya kegiatan ini terkait
dengan mulai berfungsinya beberapa waduk buatan didaerah jawa barat, antara
lain Waduk suguling (Estu et al,
2008).
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan; biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut iwak (Anonim,2008).
Ikan hampala (Hampala macrolepidota) bentuk tubuhnya hampir sama dengan ikan mas,
tetepi jika kita perhatikan baik-baik ikan barau ini bentuknya lebih ramping
dan lebih lansing, moncong lebih tirus dan, ikan ini adalah ikan pemangsa ikan
kecil, juga suka memakan hewan-hewan lain, seperti udang, ketam, dan serangga.
Warna tubuh putih keperakan punggung bewarna gelap, pinggir badan dan perutnya
bewarna lebih cerah, sirip-sirip bewarna kuning.pinggiran depan dari sirip
punggung dan pinggiran luar dari sirip ekor bewarna hitam. Dari ujung depan
pangkal sirip punggung berjalan garis hitam yang tebal melintang menujuh
pangkal sirip ekor.
klasifikasi ikan hampala (Hampala macrolepidota) :
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Hampala
Spesies : Hampala
macrolepidota
Ikan hampala termasuk ikan karnivora. Dialam aslinya, ikan ini memakan
ikan-ikan lain yang lebih kecil seperti pepetek, udang dan sejenisya.
Hampal terbukti dapat memijah sendiri di alam,
hanya saja belum diketahui secara pasti kapan ikan ini memijah, ada yg
mengatakan seperti halnya ikan-ikan lain, pada awal musim penghujan. Campur
tangan manusia terhadap ikan ini masih rendah, masyarakat di sekitar Cianjur, didaerah jawa barat jarang orang membudidayakan ikan ini karena sifatnya yang karnivora, sehingga sulit digabungkan
dengan ikan-ikan lain dalam kolam, kecuali dalam ukuran yang sama besarnya (Anonim, 2010).
Hampala paling menyukai
lokasi di lubuk sungai, waduk atau danau yang beraliran deras dan dangkal.
Biasanya lokasi demikian banyak dihuni oleh ikan-ikan kecil yang siap disantap
olehnya. Jika dalam waduk ikan ini lebih memilih dekat di daerah yang berpasir,
bebatuan sebagai bendungan dan kerikil hal ini berkaitan juga karakter ikan
dalam mencari
makan, Ikan ini tidak memiliki gigi, tetapi memiliki mulut
yang lebar (Anonim, 2010).
Klasifikasi dari ikan hampala yaitu ordo Cypriniformes, famili Cyprinidae, genus Hampala dan spesies Hampala macrolepidota. Ciri-ciri ikan hampala yaitu bentuk tubuh bilateral simetris, mempunyai satu pasang sungut dan ada yang tidak mempunyai sepasang sungut. Warna tubuh keperak-perakan, punggungnya berwarna gelap, mempunyai bercak hitam diantara sirip punggung (Kotelat et al, 2005).
Permulaan sirip punggung
berhadapan dengan sisik garis rusuk. Sirip punggung berbentuk seperti
jari-jari, sirip dubur bercagak, sirip ekor berpinggiran bercagak. Sisik pada
ikan berwarna putih keperakan, dibgian punggung lebih gelap, sedangkan dibagian
perut berwarna lebih putih. Dasar sisik kelabu sampai gelap (Heru, 2012).
Beberapa
ikan ada yang memiliki satu atau dua sirip punggung. Pada ikan bersisirp
punggung tunggal, umumnya jari-jari bagian depan (1-40) tidak bersekat dan
mengeras, sedangkan jari-jari dibelakangnya lunak atau bersekat dan umumnya
bercabang. Pada ikan yang memiliki dua sirip punggung, bagian depannya terdiri
dari duri dan yang kedua terdiri dari duri di bagian depan diikuti oleh
jari-jari lunak atau bersekat umumnya bercabang (Anonim, 2011).
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari jum’at tanggal 5
April 2013, pukul 16.00-18.00 Wita yang dilaksanakan di Laboratorium
Ichtyology Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
B. Alat dan Bahan
Tabel 1.Alat yang digunakan dalam praktikum
|
No.
|
Alat
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Pisau/cutter
|
Untuk membedah tubuh ikan
|
|
2.
|
Gabus
|
Temapt meletakkan ikan
|
|
3.
|
Alat tulis
|
Untuk menulis
|
|
4.
|
Jarum pentol
|
Untuk menjepit ikan
|
|
5.
|
Tissue
|
Membersihkan tubuh ikan
|
|
6.
|
Penggaris
|
Untuh mengukur panjang ikan, dll
|
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian
|
No.
|
Bahan
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Ikan hampala (Hampala
macrolepidota)
|
Sebagai ikan uji
|
C.
Prosedur
kerja
Adapun prosedur kerja yang dilaksanakan dalam praktikum
morfologi kualitatif pada ikan adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan peralatan dan bahan untuk
pengamatan, mengambil serta menempatkan ikan pada sterepom. Letak ikan yaitu
kepala ke arah kiri praktikan dan bagian perut menghadap praktikan.
2.
Mengamati dan menggambar tubuh ikan secara utuh yang
tampak dari luar.
3.
Memberi keterangan bagian-bagian tubuh ikan yang tampak dari luar.
Memberi keterangan bagian-bagian tubuh ikan yang tampak dari luar.
Sedangkan prosedur kerja yang dilaksanakan dalam praktikum ciri morfologi
kuantitatif pada ikan adalah sebagai berikut :
1.
Menyiapkan peralatan dan bahan untuk pengamatan,
mengambil serta menempatkan ikan pada alas. Letak ikan yaitu kepala ke arah
kiri praktikan dan bagian perut menghadap praktikan.
2.
Mengamati dan menggambar bagian tubuh ikan yang tampak
dari luar.
3.
Menghitung jarak antar bagian tubuh satu dengan yang
lain.
4.
Memberi keterangan bagian-bagian tubuh ikan yang tampak
dari luar.
Pada pengamatan identifikasi/determinasi ikan dan penggunaan kunci
identifikasi ikan, prosedur kerja yang dilaksanakan yaitu :
1.
Menyiapkan ikan untuk identifikasi, dengan posisi
miring dan bagian kepala di sebelah kiri dari praktikan.
2.
Menyiapkan catatan tentang morfologi ikan pada
pengamatan terdahulu.
3.
Membaca buku petunjuk Kunci Identifikasi karya
Hasanuddin Saanin pada Familia Kelas Pisces, urutan nomor 1 sebelah kiri.
Mencocokan informasi pada catatan untuk jenis ikan yang bersangkutan, serta
memeriksa contoh ikan yang bersangkutan bila tidak ada informasi pada catatan.
4.
Memilih informasi pada petunjuk Kunci Identifikasi yang
sesuai dengan informasi pada ikan yang bersangkutan, agar informasi dan kunci
identifikasi yang sebenarnya bersesuaian.
5.
Memeriksa kembali nomor yang bersesuaian pada sebelah
kanan, untuk mencari informasi pada nomor yang tertera sampai seterusnya hingga
mendapatkan tingkat klasifikasi yang sesuai.
6.
Tidak lupa mencatat nomor yang tertera pada buku yang
bersangkutan dengan pencatatan sebelumnya.
Adapun prosedur kerja dalam pengamatan klasifikasi dan penyebutan nama
ikan yaitu sebagai berikut :
1.
Menyiapkan peralatan dan bahan termasuk preparat untuk
pengamatan.
2.
Membaca informasi dan kunci identifikasi lalu memilih/menetapkan nomor pilihan beserta pencatatan nama-nama sesuai dengan tingkatan klasifikasi dan selanjutnya menetapkan pilihan sesuai dengan urutan klasifikasi ikan bersangkutan.
Membaca informasi dan kunci identifikasi lalu memilih/menetapkan nomor pilihan beserta pencatatan nama-nama sesuai dengan tingkatan klasifikasi dan selanjutnya menetapkan pilihan sesuai dengan urutan klasifikasi ikan bersangkutan.
3.
Membuat urutan klasifikasi dari kelas sampai jenis dari contoh ikan bersangkutan.
Membuat urutan klasifikasi dari kelas sampai jenis dari contoh ikan bersangkutan.
4.
Menunjukkan kelas urutan klasifikasi, lalu
memperbaharui catatan tersebut dan kemudian praktikan menyerahkan kepada para
asisten.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1.
Pengamatan
sifat atau ciri Morfologi (anatomi luar) kualitatif dan kuantitatif tubuh ikan.
Adapun
hasil daftar gambar yang didapat pada
praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
|
|
Gambar 1. Ikan Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1.
Mulut
2.
Mata
3.
Hidung
4.
Tutup insang
5.
Sirip punggung (Dorsal)
6.
Sirip dada (Pectoral)
7.
Sirip perut (Ventral)
8.
Sirip ekor (Caudal)
9.
Sirip dubur (Anal)
10. Linea
lateralis
11.
Anus
Anus
|
|
Gambar 2. Ikan Hampala (Hampala
macrolepidota) Utuh
dengan Ukurannya.
Keterangan :
1.
Panjang
badan total : 13,5
cm
2.
Tinggi
badan : 4
cm
3.
Lebar
badan : 1
cm
4.
Panjang
kepala : 1,8
cm
5.
Panjang
ekor : 2,8
cm
6.
Panjang
linea lateralis : 4,98
cm
|
|
Gambar 3. Kepala Ikan Hampala (Hampala macrolepidota).
Keterangan :
1. Mata
2. Hidung
3. Tutup insang
4.
Mulut
Mulut
|
|
Gambar 4. Kepala
dan Ukuran Kepala Ikan Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1. Mata
2. Hidung
3. Tutup insang
4. Mulut
5. Panjang kepala :
1,5
cm
|
|
Gambar 5. Sirip Punggung Ikan Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1.
Jari-jari sirip lemah
Jari-jari sirip lemah
2.
Jari-jari sirip keras
Jari-jari sirip keras
|
|
Gambar
6. Sirip Dada Ikan
Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1.
Jari-jari sirip lemah
2.
Jari-jari sirip
keras
|
|
Gambar 7. Sirip Perut Ikan Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1.
Jari-jari sirip lemah
2.
Jari-jari sirip keras
Jari-jari sirip keras
|
|
Gambar
8. Sirip Dubur Ikan Hampala (Hampala
macrolepidota)
Keterangan :
1.
Jari-jari sirip lemah
2.
Jari-jari sirip
keras
|
|
Gambar 9. Sirip Ekor
Ikan
Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan
:
1.
Jari-jari sirip lemah
Jari-jari sirip lemah
|
|
Gambar 10. Insang Ikan Hampala (Hampala macrolepidota)
Keterangan :
1. Tapis insang
2. Lengkung insang
|
|
Gambar
11. Sisik Ikan
Hampala (Hampala
macrolepidota)
Keterangan
:
1.
Sisik
Sisik
Tabel 3. Ciri Morfologi Kuantitatif Ikan Hampala (Hampala
macrolepidota)
|
1.
|
Panjang badan total
|
13,5 cm
|
|
2.
|
Tinggi badan
|
4
cm
|
|
3.
|
Lebar badan
|
1
cm
|
|
4.
|
Panjang kepala
|
1,8 cm
|
|
5.
|
Panjang ekor
|
2,8 cm
|
|
6.
|
Jarak antara kepala dengan sirip punggung
|
5
cm
|
|
7.
|
Jarak antara sirip punggung dengan sirip ekor
|
2,3 cm
|
|
8.
|
Jarak antara sirip dada / depan dengan sirip dubur /
belakang
|
5,5
cm
|
|
9.
|
Jarak antara sirip dubur / belakang dengan sirip ekor
|
1 cm
|
|
10.
|
Panjang linea
lateralis
|
11 cm
|
|
11.
|
Jumlah sisik pada linea lateralis
|
3,5 buah
|
|
12.
|
Jumlah tutup
insang
|
1
Keping
|
|
13.
|
Jumlah lapis
insang
|
2
helai
|
|
14.
|
Jumlah sirip punggung pertama keras
|
19 helai
|
|
15.
|
Jumlah sirip punggung pertama lemah
|
16 helai
|
|
16.
|
Jumlah sirip punggung kedua keras
|
-
|
|
17.
|
Jumlah sirip
punggung kedua lemah
|
-
|
|
18.
|
Jumlah sirip
badan keras
|
3 helai
|
|
19.
|
Jumlah sirip
badan lemah
|
8
helai
|
|
20.
|
Jumlah sirip
dada / depan keras
|
9 helai
|
|
21.
|
Jumlah sirip
dada / depan lemah
|
8
helai
|
|
22.
|
Jumlah sirip dubur / belakang keras
|
7 helai
|
|
23.
|
Jumlah sirip
dubur / belakang lemah
|
6
helai
|
|
24.
|
Jumlah sirip
ekor
|
19
helai
|
|
25.
|
Jumlah gigi
atas
|
-
|
|
26.
|
Jumlah gigi
bawah
|
-
|
Tabel 4.
Ciri Morfologi Kualitatif Ikan Hampala (Hampala
macrolepidota)
|
No.
|
Bagian tubuh
|
Keterangan
|
|
1.
|
Bentuk / bangun tubuh
|
Pipih tegak (compressed)
|
|
2.
|
Warna ikan
|
Belakang hitam perut putih
|
|
3.
|
Rangka ikan terdiri atas :
|
Tulang rawan (mudah
dilenturkan)
|
|
4.
|
Bangun kepala
|
Simetris
|
|
5.
|
Letak mata
|
Pada kiri kanan kepala
|
|
6.
|
Bernapas dengan
|
Insang
|
|
7.
|
Celah insang
|
Pada kiri kanan kepala
|
|
8.
|
Alat labirin
|
Tidak ada
|
|
9.
|
Sirip perut
|
Ada
|
|
10.
|
Sirip punggung
|
Ada
|
|
11.
|
Alat penempel, pelekat, dan
pengisap
|
Tidak ada
|
|
12.
|
Kulit badan
|
Bersisik
|
|
13.
|
Linea lateralis (garis rusuk) |
Ada
|
|
14.
|
Letak linea lateralis
|
Di atas sirip dada (pektoral)
|
|
15.
|
Bentuk linea lateralis
|
Garis lurus
|
|
16.
|
Sirip punggung (dorsal)
|
Berjari-jari keras dan lemah
|
|
17.
|
Sirip dada / badan (pektoral)
|
Berjari-jari keras dan lemah
|
|
18.
|
Sirip perut (ventral)
|
Berjari-lari keras dan lemah
|
|
19.
|
Sirip belakang /dubur (anal)
|
Berjari-jari keras dan lemah
|
|
20.
|
Bentuk ekor
|
Cagak
|
|
21.
|
Rusuk / jari-jari sirip ekor
|
Berjari-jari
|
|
22.
|
Sisik
|
Sikloid
|
|
23.
|
Sungut
|
Tidak ada
|
|
24.
|
Habitat ikan
|
Air tawar |
|
25.
|
Tulangka rangka badan
|
Tulang rawan lemah
|
|
26.
|
Bentuk mulut
|
Terminal
|
2.
Pengamatan
Identifikasi atau Determinasi Ikan dan Penggunaan Kunci Identifikasi
Penamaan dan pengklasifiksian Ikan Hampala (Hampala
macrolepidota) kali ini diperoleh dari buku identifikasi karya Hasanudin
Saanin yaitu :
1 Rangka
terdiri dari tulang benar, tertutup insang
Sub
kelas :
TELEOSTEI 3
3 Kepala
simetris 4
4 Badan
tidak seperti ular 6
6 Badan
bersisik atau tidak, kadang-kadang seluruh atau sebagian
tertutup oleh kelopak tebal
7
7
Garis rusuk jika ada diatas
sisip dada 9
9
Tidak demikian 10
10 Sirip perut tidak ada, atau berubah
menjadi patil beasar 12
14 Bersisik atau tidak, bersungut disekeliling mulut,
atau tidak bersungut,
satu jari-jari yang mengeras
atau 4 jari-jari mengeras pada sirip
punggung.
Ordo : OSTARIOPHYSI 66
66 Bersisik, tidak
bersisik hanya sebagai kecuali, mulut agak dapat
disembulka, tidak bergigi, sungut ada atau tidak, tidak bersiriptambahan
yang berupa kulit.
Sub
ordo : CYPRINOIDEA 67
67 Dasar sirip dada dan
sirp perut tidak mendatar atau tegak, hanya satu
duri,
jari-jarinya yang sebelah keluar tidak bercabang. 68
68 Duri
tunggal atau berbelah mungkin ada dimuka atau dibawah mata, pinggir rongga mata
bebas atau tertutup oleh kulit, mulut agak kebawah, tidak pernah lebih dari 4
helai sungut.
Famili :
CYPRINIDAE 740
740 Perut tidak pipih
bersiku, tetapi membundar atau datar. 741
741 Sambungan tulang rahang bawah tidak berbonggol.
Sirip punggu
biasanya berjari-jari keras
bertulang dan terletak dimuka atau
bertepatan dengan sirip
perut, jikadi belakang, maka sirip punggung
berjari-jari keras yang
bertulang, garis rusuk dengan satu kecuali,
melalui pertengahan ekor.
Subfamili :
CYPRININAE 777
777 Garis rusuk terbentang pada pertengahan
ekor. 778
778 Permulaan
sirip punggung dimuka, diatas atau sedikit dibelakang
permulaan
sirip perut. 779
779 Berlipatan
hidung yang mendatar dan pada dasarnya membungkus
tulang
rahang atas dan menutupi dasar bibir atas, mulut dimuka atau
sedikit kebawah. 780
780 Jari keras sirip dubur tidak
bergigi sebelah kebelakang. 782
782 Mata tidak berkelopak seperti
agar-agar yang lebar dan seperti cincin
784
784 Tidak berjari-jari keras yang
rebah pada sirip punggung, sirip dubur
dengan 5 jari-jari lemah bercabang,
sebagai kecuali 7. 785
785 Sirip punggung dengan 8-18 jari-jari
lemah bercabang 786
786 Sisik garis rusuk kurang dari
56. 788
788 Sirip punggung dengan 7-9 jari-jari
lemah bercabang. 789
789 Bibir berpinggir licin, sebagai kecuali bibir atas bertekuk –tekuk 790
790 Mulut diujung ,miring, lebar dan
melewati pinggiran muka dari mata,
2 sungut rahang atas.
Genus : HAMPALA 828
828 Sisik garis rusuk 28-29. 829
829 Antara sirip punggung dan sirip
perut berbelakang hitam melintang.
Hampala
macrolepidato (C.V).
Nama Indonesia : Ampalong,
Hampal, Hambal, Hampalong, Wader,
Suco, Politah, Palung,
Sabayu, Kabarau, Pada garis rusuk 2 bercak
hitam.
Hampala ampalong (Blkr) 829
Bila dibuat nomor yang diperoleh sebagai berikut :
1 à 3 à 4 à 6 à 7 à 9 à 10 à11 à 14 à 66 à 67 à 68 à 740 à 741 à 777 à 778 à 779 à 780 à 782 à 784 à 785 à 786 à 788 à 789 à 790 à 828 à 829à Hampala Ampalong (Blkr)
B.
Pembahasan
1.
Pengamatan
ciri atau sifat morfologi ikan secara kuantitatif
Pengenalan
bagian-bagian tubuh ikan atau struktur ikan tidak terlepas dari morfologi ikan
yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat
dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan sangat berhubungan dengan
habitat ikan tersebut di perairan. Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh
ikan yang bisa menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita
mengenal bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang
digunakan dalam identifikasi.
Secara garis besar ikan yang terdapat di
alam tebagi atas dua group yaitu Agnatha (Ikan yang tidak memiliki rahang) dan
Gnathostomata (Ikan yang memiliki rahang). Kedua group ikan tersebuat
dikelompokkan ke dalam tiga kelas yaitu Kelas Cephalaspidomophi, Condrichthyes,
dan Osteichthyes. Susanto (1994), menyatakan bahwa ikan apabila ditinjau dari
morfologinya dapat dibagi menjadi tujuh bagian yaitu bentuk tubuh, bentuk
mulut, linnea lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciri-ciri lainnya. Sedangkan
bagian tubuh lainnya, ikan dapat dibagi tiga bagian yaitu kepala (caput), badan (truncus), dan ekor (caudal).
Tinggi
sirip punggung diukur mulai dari pangkal hingga ujung pada jari-jari pertama
sirip punggung. Diameter mata diukur mulai dari bagian anterior hingga
posterior bola mata, diukur mengikuti garis horisontal. Tinggi batang ekor
diukur mulai dari bagian dorsal hingga ventral pangkal ekor. Tinggi badan
diukur secara vertikal mulai dari pangkal jari-jari pertama sirip punggung
hingga pangkal jari-jari pertama sirip perut. Panjang sirip dada diukur mulai
dari pangkal hingga ujung jari-jari sirip dada. Panjang sirip perut diukur
mulai dari pangkal hingga ujung sirip perut.
2.
Pengamatan sifat atau ciri morfologi ikan secara
kualitatif
Morfologi adalah
ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme
ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari
organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk
tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar. Pada dasarnya
bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir
hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya
yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan
(habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif
tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif
sangat sedikit.
Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air juga erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut. Morfologi adalah bentuk tubuh (termasuk warna) yang kelihatan dari luar. Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut. Pada dasarnya morfologi dari setiap jenis hewan air yang masih dekat kekerabatanya mempunyai kemiripan-kemiripan, seperti anatomi dan morfologi contohnya udang, kepiting dan lobster hampir mirip. Sama halnya dengan ikan hampala juga masih memiliki kekerabatan atau kemiripan-kemiripan seperti anatomi dan morfologinya yaitu dengan ikan puyau. Hal yang sama, akan kita dapati pada berbagai jenis ikan serta pada berbagai jenis hewan lainya.
Ikan
hampala yang besar memiliki warna bagaikan intan uang hitam yang
mengkilat-kilat yang menyambung dari ekor ke atas bagian tubuh tubuh perut
bawah. Namun warna seperti intan yang mengkilat-kilat tidak ditemukan pada
hampala kecil dibawah 1kg. Jika kita amati secara cermat mulai dari ekor ke
badan terdapat semacam garis hitam. Warna ikan secara umumnya kuning
keperak-perakan.
Ikan
hampala ini biasanya menyukai lokasi di lubuk sungai, waduk
atau danau yang beraliran deras dan dangkal. Biasanya lokasi demikian banyak
dihuni oleh ikan-ikan kecil yang siap disantap olehnya. Jika dalam waduk ikan
ini lebih memilih dekat di daerah yang berpasir, bebatuan sebagai bendungan dan
kerikil hal ini berkaitan juga karakter ikan dalam mencari makan.
Ikan
hampala merupakan predator air tawar yang menyukai makanan seperti udang dan
serangga. Ikan hampala yang kecil akan berenang di permukaan air sungai atau
waduk secara bergerombol. Ikan-ikan kecil ini akan berenang dari sungai ke
hulu, danau atau waduk.
3.
Pengamatan identifikasi atau determinasi ikan
Identifikasi
ikan dilakukan untuk mengenali ciri atau
sifat penting ikan yang selanjutnya dipakai untuk menentukan nama ikan, serta
menempatkannya dalam suatu system klasifikasi ikan.
Adapun ciri atau sifat penting
ikan meliputi hal-hal sebagai berikut :
b.
Bentuk atau bangun tubuh ikan : bulat
memanjang
c.
Sirip : macam-macam sirip, bentuk sirip,
jari jari penyusun sirip, dan hitungan sirip.
d.
Sisik
: ada atau tidak adanya sisik, jenis sisik, dan hitungan sisik, serta sisik pembentuk
garis rusuk (linea latelaris)
e.
Gigi pada bagian mulut ikan gabus
f.
Insang : jumlah lapisan insang dan
jumlah helaian insang
g.
Morfometrika ikan : berbagai ukuran kuantitatif ikan seperti panjang total, panjang standar atau panjang baku, panjang bagian kepala, panjang bagian badan, panjang ekor, lebar badan, dan jarak antara 2 sirip dorsal, dan sebagainya.
Morfometrika ikan : berbagai ukuran kuantitatif ikan seperti panjang total, panjang standar atau panjang baku, panjang bagian kepala, panjang bagian badan, panjang ekor, lebar badan, dan jarak antara 2 sirip dorsal, dan sebagainya.
Namun disini, ikan juga mempunyai
tiga bagian utama pada tubuhnya yaitu : kepala, badan, dan ekor. Tiga bagian tubuh tersebut dan
organ-organ pada bagian tubuh tersebut disertai ukuran-ukuran penting sebagai
bahan untuk mengenali tubuh ikan.
4. Penggunaan
kunci identifikasi
Pada
penamaan ikan biasanya diberi nama untuk
memudahkan pengenalan dan komunikasi antar penggguna ikan tersebut. Karena ada
kebebasan kepada setiap orang untuk member nama ikan, maka mungkin terdapat dua macam nama yaitu nama ilmiah (scientific name) dan nama umum
(vernacular atau common name).
Khususnya
untuk nama ilmiah, pemberian nama ikan diatur dalam Peraturan Tata Nama Hewan
(Zoological Numenclature), yang antara lain adalah menggunakan kata-kata bahasa
latin atau yang diperlukan sebagai bahasa Latin. Untuk vernacular atau common
name (nama umum) termasuk juga sebagai nama local (local name), nama
perdagangan (trade name), maupun nama-nama untuk komunikasi nasional dan
internasional tidak perlu menggunakan kata-kata bahasa latin.
Sebagai contoh dalam praktikum menggunakan nama lokal : ikan hampala, ikan hampal, dan nama ilmiah Hampal macrolepidota dengan sinonimnya Hampala ampalong. Sinonim adalah penggunaan 2 nama atau lebih yang ditetapkan untuk satu jenis ikan (jenis ikan yang sama). Sinonim ini muncul akibat adanya kebebasan orang untuk memberi nama ikan. Dalam hal sinonim ini, nama yang layak diikuti adalah nama yang paling sesuai dengan aturan tata nama, dan menurut tata nama itu sendiri, bahwa nama yang layak dikuti adalah nama yang paling tua, atau paling terdahulu dipublikasikan sesuai dengan aturan tata nama yang berlaku.
Nama ilmiah diberikan pada semua hirarki takson pada system klasifikasi. Untuk nama ilmiah takson tingkat jenis (spesies) terdiri dari 2 kata; kata pertama adalah nama Marga ( Genus) dan kata kedua adalah Penunjuk jenis. Biasanya hal ini disebabkan pemberian nama dilakukan oleh 2 orang atau lebih. Kemungkinan lain bahwa satu nama diterapkan untuk 2 jenis ikan atau lebih, disebut dengan homonym (homo name). nama yang layak diikuti adalah nama yang sesuai dengan aturan tata nama, dalam hal ini untuk ikan mengikuti aturan tata nama hewan (Zoological Numenclature).
Pada umumnya nam ilmiah dtulis
dengan huruf catak miring. Pada ujung nama sering juga dicantumkan huruf atau
kata-kata misalnya,
Hampala macrolepidota dan Hampala ampalong (Blkr). BL adalah singkatan dari nama orang
yaitu Bloch, sedangkan Blkr adalah singkatan
dari nama orang juga yaitu Bleeker.
Mengenai singkatan nama tersebut
terdapat
dalam buku karya Hasanuddin Saanin 1968.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang
merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari
jenis-jenis ikan. Ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan secara
keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.
2.
Secara
kuantitatif ikan hampala yang diamati mempunyai warna tubuh hitam bagian atas
dan pada bagian sirip berwarna kekuningan.
3. Identifikasi ikan dilakukan untuk mengenali ciri atau
sifat penting ikan yang selanjutnya dipakai untuk menentukan nama ikan, serta
menempatkannya dalam suatu system klasifikasi ikan. Dengan melakukan pengamatan pada tubuh ikan praktikan dapat mendeskripsikan
ciri ikan yang diamati dengan membaca buku karya hasanudin saanin 1968.
4.
Klasifikasi ikan hampala (Hampala macrolepidota) yaitu :
Ordo : Cypriniformes
Famili
: Cyprinidae
Genus :
Hampala
Spesies :
Hampala
macrolepidota
B. Saran
Sebelum praktikan memulai praktikum praktikan terlebih dahulu menyiapkan
alat dan bahan yang di perlukan serta membaca dan memahami apa dari isi buku
panduan praktikum agar dalam pelaksanaan praktikum bisa berjalan dengan lancer.
Sebaiknya praktikan harus benar-benar memperhatikan penjelasan yang dijelaskan
oleh asisten. Sehingga dapat mengerti tentang jalannya praktikum ikhtiologi
ini.
Nomor Halaman
1.
Ikan Hampala (Hampala
macrolepida) ............................................ 12
2.
Ikan Hampala (Hampala macrolepida) dengan
ukurannya ........... 13
3.
Kepala Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ........................... 13
4.
Kepala dan Ukuran
Kepala Ikan Hampala (Hampala macrolepla) 14
5.
Sirip Punggung
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ............. 14
6.
Sirip Dada
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ...................... 15
7.
Sirip Perut
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ...................... 15
8.
Sirip Dubur
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) .................... 16
9.
Sirip Ekor
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ........................ 16
10. Insang
Ikan hampala (Hampala macrolepidata) ............................ 17
11. Sisik
Ikan Hampala (Hampala macrolepidata) ................................ 17
|
find out this here cheap wigs human hair,wigs for women,cheap wigs human hair,wigs,human hair wigs,hair toppers,hair toppers,wigs online,hair extensions find out here now
BalasHapus